Ratusan Siswa dan Ibu Hamil di Lebak Belum Tersentuh Program MBG, Dekat Dapur Tapi Tak Terjangkau

Kamis, 2 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah siswa SD di Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, hingga kini belum mendapatkan program MBG

Sejumlah siswa SD di Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, hingga kini belum mendapatkan program MBG

POJOKBANTEN.COM, LEBAK- Program unggulan pemerintah pusat, Makan Bergizi Gratis (MBG), ternyata belum sepenuhnya menjangkau masyarakat yang berada di wilayah dekat pusat pemerintahan. Di Desa Sukadaya, ratusan siswa sekolah dasar hingga kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyusui masih belum merasakan manfaat program tersebut.

Ironisnya, SD Negeri 2 Sukadaya yang berada di Kampung Turus hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Lebak, serta relatif dekat dengan sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, kedekatan geografis itu tak menjamin akses terhadap program MBG.

Data: 282 Siswa Belum Terjangkau

Berdasarkan informasi yang dihimpun PojokBanten.com, sedikitnya 282 siswa SD Negeri 2 Sukadaya, ditambah ibu hamil dan menyusui di wilayah tersebut, belum tersentuh program sejak diluncurkan.

Kepala sekolah, Hamami Faizal, mengungkapkan pihaknya sudah berulang kali mengajukan data ke berbagai instansi terkait. Namun hingga kini, belum ada realisasi.

“Kami sudah kirim data ke berbagai pihak, termasuk dinas dan dapur MBG. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, alasan yang kerap disampaikan adalah kendala jarak distribusi serta keterbatasan kuota dapur.

Dapur Ada, Tapi Kuota Penuh

Di sekitar wilayah tersebut sebenarnya terdapat dapur MBG seperti di Cibangkur dan Warunggunung. Namun, keduanya tidak bisa melayani tambahan penerima.

“Katanya kuotanya sudah penuh. Yang di Warunggunung juga tidak bisa karena beda kecamatan,” jelas Hamami.

Dampak Sosial: Kecemburuan Hingga Penurunan Minat Sekolah

Kondisi ini mulai memunculkan dampak sosial di kalangan siswa dan orang tua. Anak-anak mempertanyakan ketimpangan yang mereka rasakan dibanding sekolah lain.

“Anak-anak sering bertanya kenapa sekolah kami belum dapat,” katanya.

Lebih jauh, Hamami mengungkapkan adanya orang tua yang mengurungkan niat menyekolahkan anaknya di SD tersebut karena tidak mendapatkan fasilitas MBG.

Di sisi lain, banyak siswa yang masih datang ke sekolah tanpa bekal memadai.

“Ada yang tidak bawa bekal sama sekali, bahkan untuk jajan juga susah,” tegasnya.

Desa Akui Program Belum Merata

Kaur Desa Sukadaya, Iyan, membenarkan bahwa program MBG di wilayahnya belum merata. Bahkan, sosialisasi dari pemerintah dinilai masih minim.

“Masih banyak yang belum dapat, termasuk ibu hamil dan menyusui. Sosialisasi juga belum ada langsung ke desa,” katanya.

Ia menambahkan, hingga kini baru sebatas pendataan oleh petugas kesehatan, tanpa kejelasan waktu realisasi.

Di Desa Sukadaya sendiri terdapat tiga SD negeri, namun hanya sebagian yang menerima program MBG.

Pengakuan BGN: Masalah Dapur dan Distribusi

Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengakui adanya ketimpangan distribusi program MBG di sejumlah wilayah, termasuk di Kecamatan Cikulur.

Menurutnya, ada dua persoalan utama:

Dapur terdekat belum siap operasionalDapur yang sudah berjalan mengalami kelebihan kapasitas

“Satu dapur maksimal hanya 3.000 porsi. Kalau sudah penuh, tidak bisa menambah penerima baru,” ujarnya.

Saat ini, di Kecamatan Cikulur baru terdapat lima dapur MBG yang beroperasi.

Ia juga mengakui bahwa wilayah selatan Lebak menjadi area dengan cakupan MBG paling minim.

Janji Evaluasi, Warga Menunggu Kepastian

Pihak BGN berjanji akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan pengelola dapur untuk mencari solusi distribusi yang lebih merata.

Namun bagi warga Desa Sukadaya, janji tersebut bukan hal baru. Yang mereka tunggu adalah realisasi nyata, bukan sekadar pendataan dan wacana.

Di tengah gencarnya program nasional pengentasan gizi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa akses belum sepenuhnya adil. Ketika dapur tersedia namun tak bisa menjangkau, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal program, melainkan efektivitas implementasi. (RADIT)

 

Popular

Polres Lebak Gelar Jumat Berkah, Puluhan Warga Serbu Makan Gratis di Rangkasbitung
Ngeri! Tak Ada ZoSS dan Rambu di Depan SMPN 2 Cibadak, Keselamatan Siswa Terancam
FPM Salurkan Bantuan untuk 100 Yatim dan Lansia di Menes pada HUT ke-152 Pandeglang
Dewan Regen Bongkar Dugaan Kelalaian RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Bayi dalam Kandungan Meninggal
Diterpa Tuduhan Saat Demo IPB, Musa Weliansyah Murka: Saya Siap Laporkan!
Baru Selesai Dibangun, Jalan Surianeun- Pasir Gadung Sudah Rusak: Proyek Rp9,3 Miliar Disorot
Heboh! Status Facebook Diduga Pelaku Kasus Sumpah Injak Al-Qur’an Diserbu Netizen, Isinya Bikin Geleng-Geleng
Tukang Ojek Menang Gugatan, Pemprov Banten Gelontorkan Rp100 Miliar Perbaiki Jalan di Pandeglang

Popular

Jumat, 29 Mei 2026 - 03:29

Polres Lebak Gelar Jumat Berkah, Puluhan Warga Serbu Makan Gratis di Rangkasbitung

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:05

Ngeri! Tak Ada ZoSS dan Rambu di Depan SMPN 2 Cibadak, Keselamatan Siswa Terancam

Senin, 27 April 2026 - 01:24

FPM Salurkan Bantuan untuk 100 Yatim dan Lansia di Menes pada HUT ke-152 Pandeglang

Kamis, 23 April 2026 - 08:57

Dewan Regen Bongkar Dugaan Kelalaian RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Bayi dalam Kandungan Meninggal

Selasa, 21 April 2026 - 23:55

Diterpa Tuduhan Saat Demo IPB, Musa Weliansyah Murka: Saya Siap Laporkan!

Berita Terbaru