Mahfud, pemilik rumah produksi, mengatakan bahwa kualitas bahan baku menentukan hasil akhir kue apem putih bohay.
“Bahan bakunya tepung beras yang memang kualitasnya bagus. Dipadukan dengan tape lalu difermentasi. Kalau bahannya bagus, enam sampai delapan jam sudah cukup,” katanya saat ditemui di rumah produksinya.
Mahfud mengungkapkan, selama Ramadhan 2026, produksi kue apem putih bohay meningkat.
Bahkan, dalam sehari dirinya mampu menjual hingga 4.000 sampai 5.000 potong apem putih bohay tersebut.
“Saat ramadhan, permintaan bisa naik sampai dua kali lipat, bahkan lebih. Penjualannya melonjak hingga 200 persen, dibandingkan hari-hari biasanya,” benernya.
Apem putih bohay dijual Rp12.000 per bungkus berisi 10 potong. Sementara gula merah cair, dijual terpisah seharga Rp3.000 per bungkus.
Menurut Mahfud, pembeli apem putih bohay tidak hanya berasal dari lokal, melainkan juga berasal dari luar lokal.
“Mayoritas dari luar. Kalau warga sini mungkin sudah sering, jadi biasa saja,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pembeli kue apem putih bohay, Uum, mengaku rutin membeli apem putih bohay.
Bahkan, tidak hanya momen bulam Ramadhan, tetapi juga hari-hari biasa.
“Sering beli, bukan cuma ramadhan. Kalau untuk konsumsi sendiri biasanya dua bungkus. Tapi kalau untuk buka puasa bersama, dan bagi-bagi, bisa 10 sampai 15 bungkus,” katanya.
Menurut Uum, keunikan tekstur dan rasa apem putih bohay sulit ditemukan pada apem lain yang dijual di pasaran.
“Kenyalnya beda, rasanya juga beda. Memang bany
ak yang jual apem, tapi ini ada khasnya,” ujarnya.
Halaman : 1 2







