POJOKBANTEN.COM- LEBAK- Tumpukan sampah rumah tangga yang menggunung di bahu Jalan Prof. Dr. Ir. Soetami, tepatnya di Kampung Tutul, Kabupaten Lebak, Banten kembali dikeluhkan warga dan pengguna jalan. Sampah yang didominasi limbah plastik rumah tangga tersebut dibiarkan menumpuk dan mengeluarkan bau menyengat hingga dikhawatirkan menjadi sarang penyakit.
Hingga Sabtu (4/4/2026) sore, lokasi pembuangan liar itu belum mendapat penanganan serius dari pihak berwenang. Kondisi sampah yang sebagian sudah membusuk terlihat berserakan di tepi jalan, mengganggu kenyamanan dan aktivitas lalu lintas di jalur utama tersebut.
Pantauan di lokasi menunjukkan area itu telah lama menjadi titik pembuangan sampah ilegal. Selain merusak pemandangan, kondisi tersebut juga menimbulkan kesan kumuh di jalur yang kerap dilalui kendaraan antarwilayah maupun pekerja.
Sejumlah warga mengaku persoalan itu bukan hal baru. Warga setempat bahkan pernah melakukan pembersihan secara swadaya, namun upaya tersebut tidak bertahan lama karena masih adanya oknum yang kembali membuang sampah di lokasi yang sama.
“Dulu sempat kami bersihkan bersama warga, tapi sekarang menumpuk lagi. Baunya sangat menyengat dan sangat mengganggu lingkungan serta pengguna jalan yang melintas,” kata Fahmi (49), warga setempat saat ditemui di lokasi.
Ia menilai, tanpa pengawasan dan penanganan berkelanjutan dari pemerintah daerah, persoalan tersebut akan terus berulang.
“Kami berharap pihak yang berwenang segera turun tangan untuk membersihkan sampah ini dan melakukan penanganan yang berkelanjutan, supaya tidak menumpuk lagi,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan pengendara yang setiap hari melintas di jalur tersebut. Hendri (46), warga Kecamatan Rangkasbitung, mengaku bau sampah sangat mengganggu aktivitas perjalanannya.
“Saya setiap hari lewat sini karena kerja di kawasan Cikande. Baunya sangat menyengat, tidak tahan. Pemerintah harus segera turun tangan,” ujarnya.
Warga menilai tumpukan sampah tersebut tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan penyakit karena menjadi sumber bakteri dan vektor penyakit.
“Kalau mengganggu sih jelas ya. Tapi tni bukan soal ganggu mengganggu, tapi terkait penyakit yang akan ditimbulkan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat, mengenai langkah penanganan maupun upaya pencegahan agar pembuangan sampah liar tidak kembali terjadi. Wartawan bahkan sudah mencoba menghubungi pihak DLH melalui sambungan telepon, tapi belum mendapatkan respons. (Daffa)







