Tercatat Desil 3, 15 Tahun Menjaga Makam Tanpa Gaji, Saen Bertahan di Gubuk Bilik

Rabu, 30 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Exif_JPEG_420

Exif_JPEG_420

POJOKBANTEN.COM- LEBAK- Setiap pagi, Saen (53) menyapu tanah di antara pusara-pusara di tempat pemakaman umum (TPU) Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten.

Selama sekitar 15 tahun, aktivitas itu menjadi bagian dari kehidupan Saen. Ia membersihkan rumput, menyapu area makam, dan memastikan lingkungan TPU tetap terawat.

Tidak ada gaji tetap yang diterimanya dari pekerjaan tersebut.

“Enggak ada gaji. Gaji di akhirat itu,” kata Saen saat ditemui PojokBanten.com di kediamannya, Selasa (29/9/2026).

Saen menjalani kehidupan seorang diri. Ia belum berkeluarga dan tidak memiliki pekerjaan lain yang menjadi sumber penghasilan tetap.

Ketika tidak sedang membersihkan makam, Saen mengandalkan pemberian warga yang datang berziarah atau meminta doa di makam.

“Kalau ada yang ngasih, saya terima. Orang saya juga butuh makan,” ujarnya.

Namun, pemberian tersebut tidak datang setiap hari. Jika mendapat uang, biasanya Saen menerima sekitar Rp20.000 hingga Rp50.000.

Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Itu enggak tiap hari, tapi alhamdulillah cukup aja. Sekecil apa pun kalau dicukupin,” katanya.

Karena tinggal seorang diri, kebutuhan makan Saen relatif sederhana. Untuk beras, ia memperkirakan hanya membutuhkan sekitar setengah liter setiap hari.

Bertahan di Gubuk Bilik

Keterbatasan ekonomi Saen juga terlihat dari tempat tinggalnya.

Sekitar tiga tahun terakhir, Saen menempati sebuah gubuk berukuran sekitar 5 meter x 5 meter. Bangunan itu berdinding bilik bambu dan memiliki lantai tanah.

Tidak ada lantai ubin ataupun keramik di dalamnya. Ketika hujan turun, air dapat masuk dan merembes ke bagian dalam gubuk.

Sebelum memiliki tempat tinggal tersebut, Saen mengaku hanya menumpang di emperan rumah milik kakaknya.

Gubuk itu dibangun menggunakan material yang diberikan oleh warga sekitar. Bambu dan kayu diperoleh dari tetangga, sementara proses pembangunannya dikerjakan sendiri.

“Bambunya, kayunya dari tetangga. Yang ngerjain saya sendiri,” katanya.

Di dalam gubuk, Saen hanya memiliki perabot sederhana, termasuk amben atau dipan yang digunakan untuk duduk dan beristirahat.

Meski kondisi tempat tinggalnya sederhana, Saen mengaku tidak terlalu mempermasalahkannya.

“Kalau kondisi bukan rumah sih sebenarnya gubuk bilik. Menurut saya masih layak buat saya. Karena hidupnya juga sendiri,” ujarnya.

Untuk kebutuhan air sehari-hari, Saen mengandalkan aliran air dari rumah tetangganya. Air tersebut digunakan untuk mandi dan mencuci peralatan makan.

Sementara untuk kebutuhan sanitasi, ia membuat fasilitas sederhana di bagian belakang gubuk.

Tercatat Desil 3, Mengaku Belum Terima PKH dan BPNT

Di tengah kehidupan serba terbatas itu, Saen mengaku namanya tercatat dalam kategori Desil 3 pada data kesejahteraan sosial.

Namun, berdasarkan pengakuannya, ia hingga kini belum menerima bantuan sosial pemerintah pusat berupa Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Bantuan yang pernah diterimanya justru berasal dari pemerintah desa berupa beras dan uang yang bersumber dari dana desa.

“Dari desa doang. Selain dari itu belum ada,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Saen tetap mengandalkan pekerjaan menjaga TPU tanpa penghasilan tetap. Ketika ada warga yang memberikan uang, pemberian itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika tidak ada, ia bertahan dengan apa yang dimilikinya.

Kisah Saen menunjukkan persoalan yang lebih luas dalam kehidupan warga berpenghasilan rendah: tercatat dalam data kesejahteraan sosial, menurut pengakuannya, belum otomatis membuat bantuan sosial yang diharapkan diterima.

Di satu sisi, Saen mengaku masuk kategori Desil 3. Di sisi lain, ia mengatakan belum menerima PKH maupun BPNT dan masih mengandalkan pemberian warga serta bantuan yang sesekali diterima dari pemerintah desa.

Meski demikian, Saen memilih menjalani kehidupannya dengan sederhana.

Ia tetap membersihkan makam, tinggal di gubuk bilik, memenuhi kebutuhan makan secukupnya, dan menerima apa pun yang diberikan orang kepadanya.

“Sekecil apa pun kalau dicukupin,” ucapnya. (Red).

 

Popular

Bupati-Wabup Tak Hadir, Paripurna APBD 2027 Lebak Ditunda, Wabup Amir Hamzah: “No Comment”
Ironi Jalan Menuju Kantor Desa dan Kopdes Merah Putih di Lebak Dicor Pakai Uang Patungan Warga
Polisi Cimarga Berhasil Temukan Keluarga Pria Asal NTT yang Ditemukan di Perkebunan Lebak
Redaksi Media Indosatunews.com dan Pusatsi.com Gelar Santunana
Gubernur Banten Resmikan 7 Daerah Irigasi, Perkuat Produktivitas Pertanian dan Kesejahteraan Petani
Soroti Pembongkaran Dua Pura di Sanur, AKAMSI Desak ATR/BPN Batalkan HGB
Berkedok Seminar, Kemenag Pandeglang Diduga Lakukan Pungli dan Telantarkan Siswa
53 Tahanan Polres Lebak Diajak Makan Bersama, Polisi Bangun Komunikasi Lewat Jumat Berkah

Popular

Rabu, 30 September 2026 - 12:47

Tercatat Desil 3, 15 Tahun Menjaga Makam Tanpa Gaji, Saen Bertahan di Gubuk Bilik

Selasa, 29 September 2026 - 00:47

Bupati-Wabup Tak Hadir, Paripurna APBD 2027 Lebak Ditunda, Wabup Amir Hamzah: “No Comment”

Minggu, 27 September 2026 - 07:40

Ironi Jalan Menuju Kantor Desa dan Kopdes Merah Putih di Lebak Dicor Pakai Uang Patungan Warga

Sabtu, 26 September 2026 - 09:01

Polisi Cimarga Berhasil Temukan Keluarga Pria Asal NTT yang Ditemukan di Perkebunan Lebak

Rabu, 16 September 2026 - 11:42

Redaksi Media Indosatunews.com dan Pusatsi.com Gelar Santunana

Berita Terbaru