HUT ke-26 Banten, Warga Lebak Tagih Jalan Layak Setelah 20 Tahun Rusak

Minggu, 4 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) saat melintasi jalan di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, yang rusak selama belasan tahun dan belum mendapat perbaikan, Minggu (4/10/2026). Warga berharap pemerintah segera memperbaiki ruas jalan yang menjadi akses utama masyarakat tersebut.

Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) saat melintasi jalan di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, yang rusak selama belasan tahun dan belum mendapat perbaikan, Minggu (4/10/2026). Warga berharap pemerintah segera memperbaiki ruas jalan yang menjadi akses utama masyarakat tersebut.

POJOKBANTEN.COM,LEBAK- Di tengah peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Banten, persoalan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Lebak.

Seperti yang terjadi di Kampung Suminta, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, warga telah menunggu sekitar 20 tahun untuk mendapatkan jalan yang layak. Ruas sepanjang sekitar 700 meter itu menjadi akses utama warga untuk bersekolah, bekerja, berbelanja, hingga menghubungkan sejumlah wilayah.

Kerusakan jalan semakin menyulitkan warga ketika musim hujan. Jalan menjadi licin dan berlubang sehingga meningkatkan risiko warga tergelincir saat melintas.

Anak-anak yang berangkat sekolah bahkan disebut kerap berjalan tanpa alas kaki agar sepatu dan seragam mereka tidak kotor akibat kondisi jalan.

Kini, harapan perbaikan kembali muncul setelah Pemerintah Kabupaten Lebak disebut berencana menangani ruas tersebut melalui anggaran perubahan. Namun, sebelum alat berat dan material pembangunan tiba, warga memilih bergerak lebih dahulu.

Pantauan PojokBanten.com, Minggu (4/10/2026), pemuda, bapak-bapak hingga ibu rumah tangga di Kampung Suminta bergotong royong membenahi aliran air di sekitar badan jalan.

Bagi warga, pembenahan drainase penting dilakukan karena aliran air menjadi salah satu persoalan yang dapat memperparah kerusakan badan jalan.

Ketua RT setempat, Sujana, mengatakan kerusakan jalan di Kampung Suminta telah berlangsung sekitar dua dekade.

“Kerusakan jalan ini sudah lama. Padahal panjang jalannya sekitar kurang lebih 700 meter. Ini kenapa? Kami juga sama masyarakat Banten. Kalau sudah musim hujan, Masyaallah, kewalahan sekali,” kata Sujana kepada wartawan di lokasi, Minggu (4/10/2026).

Menurut Sujana, kondisi jalan tidak hanya menyulitkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga membahayakan pengguna jalan.

“Anak-anak banyak yang nyeker kalau ke sekolah dan banyak terjadi kecelakaan tergelincir seperti pedagang dan masyarakat ketika melintasi jalan ini,” ujarnya.

Jalan tersebut, kata Sujana, bukan sekadar akses antarpermukiman. Ruas itu menjadi jalur penting bagi warga menuju sekolah, tempat kerja, pasar, sekaligus menghubungkan Kecamatan Cikulur dengan wilayah Warunggunung dan Cibadak.

Karena itu, warga berharap rencana perbaikan tidak kembali tertunda.

“Ya mudah-mudahan segera dibangun, kan katanya ada program Bang Andra (Bangun Jalan Desa Sejahtera),” katanya.

Bukan Hanya Kampung Suminta

Keluhan serupa mengenai infrastruktur jalan juga muncul di wilayah lain di Kabupaten Lebak.

Muhit, warga Kampung Cipasung Barat, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, mengatakan masih terdapat sekitar satu kilometer ruas jalan yang rusak parah dan telah berlangsung selama belasan tahun.

Ruas tersebut berstatus jalan Kabupaten Lebak dan menjadi salah satu akses masyarakat menuju pusat pemerintahan Kabupaten Lebak.

“Jalan ini statusnya jalan Kabupaten Lebak, ini semakin hari kondisinya semakin parah. Apalagi sekarang yang di dekat Tanjakan Sariani kondisinya sudah mengkhawatirkan, pada retak dan berpotensi amblas,” kata Muhit.

Kondisi itu menjadi perhatian warga karena jalan masih digunakan kendaraan setiap hari. Terlebih, ruas tersebut berada di bawah tanjakan yang dinilai rawan.

“Ini kalau terus dilintasi kendaraan atau mobil takut terjadi kecelakaan, mengingat jalan tersebut bertepatan dengan jalur yang dirasa rawan, karena bertepatan langsung di bawah tanjakan,” ujarnya.

Warga sebenarnya telah berupaya memperbaiki jalan secara swadaya. Namun, perbaikan dengan cara tambal sulam dinilai hanya mampu bertahan sementara.

“Kalau terus diperbarui secara swadaya kurang kuat, paling masyarakat cuma tambal sulam, jadi setelah beberapa lama rusak lagi. Kurang kuat, masyarakat sudah capek melihat kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki,” kata Muhit.

Ia mempertanyakan mengapa ruas jalan yang hanya sekitar satu kilometer tersebut belum juga mendapat penanganan permanen.

“Padahal kami setiap pemilihan kepala desa, pilkada, dan pemilu selalu ikut serta menyukseskan hajat negara, tapi kenapa jalan yang hanya satu kilometer kurang lebih ini belum juga diperbaiki,” ujarnya.

26 Tahun Banten dan Pekerjaan Rumah Infrastruktur

Provinsi Banten resmi berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten. Tanggal 4 Oktober 2000 kemudian menjadi momentum yang diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Banten.

Selama 26 tahun, Banten berkembang menjadi salah satu wilayah strategis di Indonesia. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Jakarta dan Jawa Barat membuat provinsi ini memiliki posisi penting dalam aktivitas ekonomi dan mobilitas nasional.

Banten juga memiliki kawasan industri, pelabuhan, bandara internasional, kawasan pariwisata, serta sumber daya alam yang besar.

Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya menghapus persoalan konektivitas di wilayah pedesaan.

Kabupaten Lebak dan Pandeglang, dengan karakter geografis yang sebagian berupa perbukitan dan kawasan pedesaan, masih menghadapi tantangan pembangunan jalan dan konektivitas antarwilayah.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisik. Jalan yang layak berkaitan langsung dengan akses pendidikan, aktivitas ekonomi, pelayanan publik, hingga keselamatan masyarakat.

Di Kampung Suminta, warga kini menunggu realisasi rencana perbaikan setelah sekitar 20 tahun menghadapi jalan rusak. Sementara di Kampung Cipasung Barat, warga masih menghadapi kerusakan jalan yang berlangsung belasan tahun.

Keduanya memperlihatkan persoalan yang sama yakni ketika perbaikan permanen belum datang, masyarakat terpaksa mengandalkan kemampuan sendiri untuk mempertahankan akses yang menjadi urat nadi kehidupan mereka.

Di Kampung Suminta, warga bahkan memilih memperbaiki saluran air secara gotong royong sebagai bentuk kesiapan menyambut rencana pembangunan.

Momentum Hari Jadi ke-26 Banten pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan kawasan industri, pelabuhan, atau pusat ekonomi, tetapi juga dari seberapa jauh infrastruktur dasar dapat dirasakan masyarakat di pelosok.

Setelah puluhan tahun menunggu, warga berharap rencana perbaikan jalan tidak berhenti sebagai janji.

“Semoga di HUT Banten yang ke-26 ini jalan kami bisa segera diperbaiki,” ujar Muhit. (Red)

Popular

Dari Brimob Banten ke Kursi Kapolri, Regen: Suyudi Dikenal Humble dan Tegas
IGD RSUD Adjidarmo Lebak Overload, 113 Pasien Masuk Sehari: DPRD Desak Puskesmas Maksimalkan Layanan
­Paripurna APBD 2027 Lebak Kacau! Bupati-Wabup Tak Hadir, DPRD: Ini Memalukan
Peluit, Senyum, dan Hampers: Cara Polwan Poles Pandeglang Rayakan HUT ke-78
Polwan Goes to School, Polres Pandeglang Ingatkan Pelajar Bahaya Bullying dan Kekerasan Seksual
Guru Kemenag Punya Wadah Bersama, Fahru Rijal Asal Pandeglang Masuk Kepengurusan Nasional
Musim Durian di Lebak, Jangan Langsung Makan Usai Aktivitas Berat, Ini Penjelasan Dinkes
Pemkab Lebak Beri Kado HUT RI, 3.450 Pekerja Rentan Bakal Dapat Jaminan Sosial

Popular

Minggu, 4 Oktober 2026 - 23:57

HUT ke-26 Banten, Warga Lebak Tagih Jalan Layak Setelah 20 Tahun Rusak

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:06

Dari Brimob Banten ke Kursi Kapolri, Regen: Suyudi Dikenal Humble dan Tegas

Senin, 28 September 2026 - 09:06

IGD RSUD Adjidarmo Lebak Overload, 113 Pasien Masuk Sehari: DPRD Desak Puskesmas Maksimalkan Layanan

Senin, 28 September 2026 - 08:13

­Paripurna APBD 2027 Lebak Kacau! Bupati-Wabup Tak Hadir, DPRD: Ini Memalukan

Selasa, 1 September 2026 - 03:53

Peluit, Senyum, dan Hampers: Cara Polwan Poles Pandeglang Rayakan HUT ke-78

Berita Terbaru

Pemerintahan

DPRD Desak Pembangunan Berdampak pada HUT Banten ke-26

Minggu, 4 Okt 2026 - 07:45