POJOKBANTEN.COM, LEBAK- Program unggulan pemerintah pusat, Makan Bergizi Gratis (MBG), ternyata belum sepenuhnya menjangkau masyarakat yang berada di wilayah dekat pusat pemerintahan. Di Desa Sukadaya, ratusan siswa sekolah dasar hingga kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyusui masih belum merasakan manfaat program tersebut.
Ironisnya, SD Negeri 2 Sukadaya yang berada di Kampung Turus hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Lebak, serta relatif dekat dengan sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, kedekatan geografis itu tak menjamin akses terhadap program MBG.
Data: 282 Siswa Belum Terjangkau
Berdasarkan informasi yang dihimpun PojokBanten.com, sedikitnya 282 siswa SD Negeri 2 Sukadaya, ditambah ibu hamil dan menyusui di wilayah tersebut, belum tersentuh program sejak diluncurkan.
Kepala sekolah, Hamami Faizal, mengungkapkan pihaknya sudah berulang kali mengajukan data ke berbagai instansi terkait. Namun hingga kini, belum ada realisasi.
“Kami sudah kirim data ke berbagai pihak, termasuk dinas dan dapur MBG. Tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, alasan yang kerap disampaikan adalah kendala jarak distribusi serta keterbatasan kuota dapur.
Dapur Ada, Tapi Kuota Penuh
Di sekitar wilayah tersebut sebenarnya terdapat dapur MBG seperti di Cibangkur dan Warunggunung. Namun, keduanya tidak bisa melayani tambahan penerima.
“Katanya kuotanya sudah penuh. Yang di Warunggunung juga tidak bisa karena beda kecamatan,” jelas Hamami.
Dampak Sosial: Kecemburuan Hingga Penurunan Minat Sekolah
Kondisi ini mulai memunculkan dampak sosial di kalangan siswa dan orang tua. Anak-anak mempertanyakan ketimpangan yang mereka rasakan dibanding sekolah lain.
“Anak-anak sering bertanya kenapa sekolah kami belum dapat,” katanya.
Lebih jauh, Hamami mengungkapkan adanya orang tua yang mengurungkan niat menyekolahkan anaknya di SD tersebut karena tidak mendapatkan fasilitas MBG.
Di sisi lain, banyak siswa yang masih datang ke sekolah tanpa bekal memadai.
“Ada yang tidak bawa bekal sama sekali, bahkan untuk jajan juga susah,” tegasnya.
Desa Akui Program Belum Merata
Kaur Desa Sukadaya, Iyan, membenarkan bahwa program MBG di wilayahnya belum merata. Bahkan, sosialisasi dari pemerintah dinilai masih minim.
“Masih banyak yang belum dapat, termasuk ibu hamil dan menyusui. Sosialisasi juga belum ada langsung ke desa,” katanya.
Ia menambahkan, hingga kini baru sebatas pendataan oleh petugas kesehatan, tanpa kejelasan waktu realisasi.
Di Desa Sukadaya sendiri terdapat tiga SD negeri, namun hanya sebagian yang menerima program MBG.
Pengakuan BGN: Masalah Dapur dan Distribusi
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Lebak, Asep Royani, mengakui adanya ketimpangan distribusi program MBG di sejumlah wilayah, termasuk di Kecamatan Cikulur.
Menurutnya, ada dua persoalan utama:
Dapur terdekat belum siap operasionalDapur yang sudah berjalan mengalami kelebihan kapasitas
“Satu dapur maksimal hanya 3.000 porsi. Kalau sudah penuh, tidak bisa menambah penerima baru,” ujarnya.
Saat ini, di Kecamatan Cikulur baru terdapat lima dapur MBG yang beroperasi.
Ia juga mengakui bahwa wilayah selatan Lebak menjadi area dengan cakupan MBG paling minim.
Janji Evaluasi, Warga Menunggu Kepastian
Pihak BGN berjanji akan segera berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan pengelola dapur untuk mencari solusi distribusi yang lebih merata.
Namun bagi warga Desa Sukadaya, janji tersebut bukan hal baru. Yang mereka tunggu adalah realisasi nyata, bukan sekadar pendataan dan wacana.
Di tengah gencarnya program nasional pengentasan gizi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa akses belum sepenuhnya adil. Ketika dapur tersedia namun tak bisa menjangkau, pertanyaan yang muncul bukan lagi soal program, melainkan efektivitas implementasi. (RADIT)







