POJOKBANTEN.COM, LEBAK- Anggota DPRD Kabupaten Lebak, Regen Abdul Aris, meminta seluruh pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di daerah itu memaksimalkan pelayanan kesehatan dan memperkuat sosialisasi kepada masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi penumpukan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung.
Permintaan itu disampaikan Regen menyusul lonjakan pasien di IGD RSUD dr. Adjidarmo yang mencapai 113 orang. Jumlah tersebut jauh melampaui kapasitas ideal IGD yang hanya memiliki 29 tempat tidur.
Menurut Regen, Puskesmas, khususnya yang berada di wilayah sekitar Rangkasbitung dan Warunggunung, perlu mengoptimalkan pelayanan agar masyarakat tidak langsung berobat ke rumah sakit ketika keluhan kesehatannya masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Intinya Puskesmas di wilayah Lebak, terutama kecamatan yang dekat dengan Rangkasbitung, Warunggunung dan sekitarnya, harus memaksimalkan pelayanan. Karena IGD di rumah sakit penuh,” kata Regen kepada wartawan saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (28/9/2026).
Politisi Partai PPP atau Ka’bah itu menilai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan Puskesmas. Menurut dia, ketika masyarakat merasa pelayanan di Puskesmas belum maksimal, sebagian warga cenderung memilih langsung datang ke rumah sakit.
“Karena mungkin masyarakat tidak percaya ke Puskesmas, kemudian pelayanannya dianggap kurang baik, akhirnya semua mengejar ke rumah sakit,” ujarnya.
Regen mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelayanan medis di Puskesmas, tetapi juga komunikasi antara Puskesmas, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong Dinas Kesehatan Lebak bersama pemerintah kecamatan dan desa memperkuat sosialisasi mengenai alur pelayanan kesehatan. Masyarakat perlu mendapat informasi bahwa Puskesmas dapat menjadi fasilitas pertama untuk menangani berbagai keluhan kesehatan, termasuk bagi Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap.
“Harus ada kolaborasi antara Dinas Kesehatan dengan pihak kecamatan dan desa. Ada sosialisasi. Kalau ada warga yang sakit, diberi tahu untuk datang ke Puskesmas terlebih dahulu, karena ada Puskesmas yang memiliki ruangan dan rawat inap,” kata Regen.
Menurut dia, penguatan pelayanan Puskesmas juga perlu menjadi perhatian karena pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk fasilitas kesehatan tingkat pertama tersebut.
Ia menyebut anggaran sejumlah Puskesmas di Lebak dapat mencapai miliaran rupiah. Karena itu, Regen meminta anggaran tersebut dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Anggaran Puskesmas besar. Ada yang Rp2 miliar, bahkan ada yang Rp3 miliar, Rp4 miliar sampai Rp5 miliar. Makanya pelayanan Puskesmas harus dimaksimalkan,” ujarnya.
Regen menambahkan, penguatan Puskesmas bukan berarti membatasi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan di rumah sakit. Namun, pembagian fungsi pelayanan yang berjalan baik dinilai dapat membantu rumah sakit menangani pasien yang memang membutuhkan layanan lebih lanjut.
Ia juga meminta keberadaan Posyandu serta perangkat desa dimanfaatkan sebagai saluran sosialisasi kepada masyarakat mengenai layanan kesehatan yang tersedia di wilayah masing-masing.
“Pelayanan harus baik dan sosialisasi kepada masyarakat juga harus diperkuat. Jangan sampai rumah sakit terus yang menanggung penumpukan pasien,” katanya.
Sebelumnya, IGD RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung mengalami lonjakan pasien hingga mencapai 113 orang. Kondisi tersebut membuat pasien harus ditangani di tengah keterbatasan kapasitas ruang pelayanan, karena kapasitas ideal IGD hanya sekitar 29 tempat tidur.
Lonjakan itu menunjukkan adanya tekanan terhadap kapasitas layanan rumah sakit. Dalam kondisi tersebut, penguatan layanan di tingkat Puskesmas menjadi salah satu langkah yang didorong DPRD agar pelayanan kesehatan masyarakat dapat berlangsung berjenjang dan penumpukan di IGD dapat ditekan. (Red)







