POJOKBANTEN.COM, Lebak – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, permintaan cangkang ketupat di sejumlah sentra pengrajin di Kabupaten Lebak, Banten, mengalami peningkatan signifikan. Lonjakan tersebut seiring dengan tradisi Qunut atau Qunutan yang digelar masyarakat setiap malam ke-15 Ramadan.
Tradisi Qunut merupakan budaya khas masyarakat Banten, khususnya di Kabupaten Lebak dan sekitarnya. Pada momen tersebut, warga memasak ketupat untuk dibawa ke masjid, kemudian didoakan bersama dan dibagikan kembali kepada masyarakat sebagai wujud syukur karena telah melewati setengah perjalanan ibadah puasa.
Pantauan di rumah salah satu pengrajin di Kampung Cicenang Legok, Desa Pasirkupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak Banten.
Herdi (38) terlihat sibuk menganyam daun kelapa atau janur menjadi cangkang ketupat. Bersama istri dan saudaranya, ia melayani pesanan yang terus berdatangan dalam beberapa hari terakhir.
“Kalau jualan cangkang ketupat ini sebenarnya sudah dari kecil, tiap tahun pasti jualan. Tapi ramainya memang menjelang tanggal 15 Ramadan sampai mau Lebaran,” ungkap Herdi saat ditemui di rumahnya, Rabu 4 Maret 2026.
Herdi menuturkan, bahan baku janur diperolehnya dengan cara berkeliling kampung dan membeli langsung dari pemilik pohon kelapa. Sistem pembelian dilakukan per pohon dengan harga bervariasi antara Rp8.000 hingga Rp10.000.
“Keliling dari kampung ke kampung. Beli per pohon, ada yang Rp8.000, ada yang Rp10.000,” katanya.
Dalam satu musim Qunut, Herdi mampu memproduksi sekitar 4.000 hingga 5.000 cangkang ketupat. Sementara pada hari biasa, produksinya berkisar 3.000 buah. Cangkang ketupat tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar, baik secara eceran maupun borongan.
Halaman : 1 2 Selanjutnya







