Untuk penjualan eceran, harga dibanderol antara Rp3.500 hingga Rp5.000 per 10 buah, atau sekitar Rp300 hingga Rp400 per buah. Sementara untuk pembelian borongan, harganya lebih rendah, yakni sekitar Rp2.500 hingga Rp3.000 per 10 buah.
Dalam proses produksi, Herdi juga memberdayakan warga sekitar, termasuk tetangga dan kerabat, dengan sistem upah per buah.
“Yang bikin dibayar Rp100 per biji, jadi 10 biji Rp1.000. Separuh saya bikin sendiri, separuhnya lagi dibantu warga,” jelasnya.
Menurut Herdi, usaha musiman ini cukup membantu menambah penghasilan keluarga. Dalam sehari, ia dapat meraup keuntungan bersih sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000, tergantung jumlah pesanan.
Di luar musim Qunut, Herdi sehari-hari berprofesi sebagai pedagang hasil bumi sekaligus bertani. Ia menjual kelapa, pisang, serta berbagai hasil kebun lainnya. Produksi cangkang ketupat biasanya kembali meningkat saat Idulfitri dan Iduladha, serta pada momen tertentu seperti bulan Safar.
“Setahun bisa dua sampai tiga kali ramai, Qunut, Idulfitri, sama Iduladha. Tapi yang paling banyak tetap Idulfitri,” pungkasnya.
Meningkatnya permintaan cangkang ketupat ini menjadi berkah tersendiri bagi para pengrajin musiman di Lebak, sekaligus menunjukkan kuatnya tradisi lokal yang terus terjaga di tengah masyarakat. (***)
Halaman : 1 2







