Soroti Pembongkaran Dua Pura di Sanur, AKAMSI Desak ATR/BPN Batalkan HGB

Rabu, 2 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Angkatan Pergerakan Mahasiswa Indonesia (AKAMSI) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Angkatan Pergerakan Mahasiswa Indonesia (AKAMSI) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Atas persoalan tersebut, AKAMSI menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum.

Pertama, mereka mendesak Kapolri melakukan penyelidikan dan pemeriksaan hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas persoalan tersebut.

AKAMSI juga meminta aparat menelusuri dugaan penguasaan fisik lahan yang disebut sebagai tanah adat hingga mengakibatkan rusak atau musnahnya Pura Sambiyangan dan Pura Ketapang Kembar.

 

Selain itu, massa mendesak Menteri ATR/Kepala BPN meninjau kembali status HGB Nomor 70 dan HGB Nomor 71 atas nama PT Restu Maharani yang disebut akan berakhir pada 29 September 2026.

“Kami menuntut dibatalkannya HGB 70 dan 71 atas nama PT Restu Maharani yang akan habis masa berlakunya pada 29 September 2026. Dan tidak memperpanjang SK HGB karena tanah tersebut tanah milik adat berdasarkan bukti keberadaan dua pura,” jelas Rahbar.

AKAMSI juga meminta pemerintah tidak menerbitkan hak baru atas peralihan kepada PT Kartika Sanur Cemerlang sebelum seluruh persoalan hukum, status tanah, serta keberadaan situs sejarah dan tempat ibadah tersebut mendapatkan kejelasan.

Menurut AKAMSI, tanah yang memiliki keterkaitan dengan situs sejarah dan tempat ibadah umat Hindu perlu mendapatkan perlindungan dan tidak semestinya hanya dipandang sebagai objek komersial.

Massa juga menyampaikan pengaduan masyarakat sekaligus meminta perlindungan hukum kepada Kapolri dan Menteri ATR/BPN. Mereka berharap persoalan tersebut mendapat perhatian serius dan tidak hanya dipandang sebagai sengketa pertanahan biasa.

“Kami meminta pemerintah dan aparat penegak hukum mengambil langkah tegas serta memastikan perlindungan terhadap situs sejarah dan tempat ibadah,” tandasnya. (Red).

Popular

Direktur PT Awinet Global Mandiri Dukung Penertiban Kabel Fiber Optik di Pandeglang
Patroli Polres Pandeglang Sambangi Kuliner Gedung Juang, Disambut Hangat Paguyuban
Pemadaman Listrik Lebak Molor, Pelaku Usaha Ikan Terancam Rugi dan Warga Mengeluh
Tercatat Desil 3, 15 Tahun Menjaga Makam Tanpa Gaji, Saen Bertahan di Gubuk Bilik
Bupati-Wabup Tak Hadir, Paripurna APBD 2027 Lebak Ditunda, Wabup Amir Hamzah: “No Comment”
Ironi Jalan Menuju Kantor Desa dan Kopdes Merah Putih di Lebak Dicor Pakai Uang Patungan Warga
Polisi Cimarga Berhasil Temukan Keluarga Pria Asal NTT yang Ditemukan di Perkebunan Lebak
Redaksi Media Indosatunews.com dan Pusatsi.com Gelar Santunana

Popular

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:42

Direktur PT Awinet Global Mandiri Dukung Penertiban Kabel Fiber Optik di Pandeglang

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:58

Patroli Polres Pandeglang Sambangi Kuliner Gedung Juang, Disambut Hangat Paguyuban

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:15

Pemadaman Listrik Lebak Molor, Pelaku Usaha Ikan Terancam Rugi dan Warga Mengeluh

Rabu, 30 September 2026 - 12:47

Tercatat Desil 3, 15 Tahun Menjaga Makam Tanpa Gaji, Saen Bertahan di Gubuk Bilik

Selasa, 29 September 2026 - 00:47

Bupati-Wabup Tak Hadir, Paripurna APBD 2027 Lebak Ditunda, Wabup Amir Hamzah: “No Comment”

Berita Terbaru