Sawah Gagal Panen, Penghasilan Terhenti, Polisi Bantu Lansia 75 Tahun di Lebak

Kamis, 27 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

sejumlah personel Satlantas Polres Lebak tiba di rumah Murnah pada Kamis sore. Kanit Gakkum Satlantas Polres Lebak Ipda Aris Setiawan terlihat membawa langsung karung beras dan sejumlah sembako. Personel lainnya membawa kasur lipat serta kebutuhan rumah tangga.

sejumlah personel Satlantas Polres Lebak tiba di rumah Murnah pada Kamis sore. Kanit Gakkum Satlantas Polres Lebak Ipda Aris Setiawan terlihat membawa langsung karung beras dan sejumlah sembako. Personel lainnya membawa kasur lipat serta kebutuhan rumah tangga.

POJOKBANTN.COM,LEBAK– Kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan tidak hanya membuat sawah Murnah (75), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, gagal panen. Kekeringan juga memutus pekerjaan dan pendapatan yang selama ini menopang kebutuhan keluarganya.

Kondisi itu mendorong Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lebak, Polda Banten, mendatangi rumah Murnah, Kamis (27/8/2026) sore. Polisi membawa bantuan berupa 25 kilogram beras, kasur lipat, dan sejumlah kebutuhan rumah tangga.

Pantauan PojokBanten.com, sejumlah personel Satlantas Polres Lebak tiba di rumah Murnah pada Kamis sore. Kanit Gakkum Satlantas Polres Lebak Ipda Aris Setiawan terlihat membawa langsung karung beras dan sejumlah sembako. Personel lainnya membawa kasur lipat serta kebutuhan rumah tangga.

Bantuan tersebut diberikan setelah polisi mengetahui kondisi keluarga Murnah melalui media sosial.

“Kami dari Satuan Lalu Lintas Polres Lebak ingin berbagi kepada Ibu. Di rumah ini ada lima orang, dua di antaranya mengalami kebutaan. Kami selaku Polri ingin berbagi dan membantu. Mudah-mudahan bantuan kami bisa dirasakan oleh Emak,” kata Aris kepada PojokBanten.com saat menyerahkan bantuan.

Menurut Aris, informasi mengenai kondisi Murnah dan keluarganya diketahui personel melalui media sosial. Informasi itu kemudian ditindaklanjuti dengan mendatangi rumah Murnah secara langsung.

“Alhamdulillah kami melihat dari media sosial dan kami sangat terharu melihat keluarga Emak ini. Jadi, kami ingin berbagi,” ujarnya.

Aris berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban Murnah dan keluarganya selama kemarau.

“Harapannya mudah-mudahan Emak bersama keluarga sehat dan bantuan kami ini bisa bermanfaat,” katanya.

Sawah Mengering, Penghasilan Terhenti

Bagi Murnah, kemarau bukan sekadar persoalan sawah yang kekurangan air. Ketika lahan mengering, sumber pangan sekaligus kesempatan untuk memperoleh penghasilan ikut hilang.

Hampir tiga bulan hujan tidak turun di wilayah tempat tinggalnya. Tanah persawahan mengeras, retak, dan berubah kemerah-merahan. Tanaman padi yang seharusnya dipanen akhirnya tidak menghasilkan sebagaimana mestinya.

“Sudah hampir tiga bulan kering. Tidak ada hujan,” kata Murnah saat ditemui Beritasatu.com, Kamis.

Murnah mengatakan hanya memiliki satu petak sawah dengan luas relatif kecil. Dalam kondisi normal, lahan itu dapat menghasilkan sekitar empat karung gabah dalam satu kali panen.

Hasil tersebut memang tidak besar. Namun, bagi Murnah, produksi sawah cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

“Ibu cuma punya satu petak sawah dan itu juga kondisinya kecil,” ujarnya.

Kemarau panjang membuat sawah tersebut tidak lagi dapat diandalkan.

“Bareureum (tanahnya kemerah-merahan), kering karena kemarau. Sudah parah,” katanya.

Persoalan kemudian bergeser dari gagal panen menjadi persoalan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Ketika sawah tidak menghasilkan, Murnah harus membeli beras. Pada saat yang sama, pekerjaan sebagai buruh tani juga berhenti karena aktivitas di sawah berkurang.

Murnah biasanya membeli sekitar tiga liter beras untuk kebutuhan keluarganya setiap hari. Harga beras yang dibelinya berkisar Rp12.000-Rp12.500 per liter. Untuk beras dengan kualitas lebih baik, harganya bisa mencapai Rp13.000 per liter.

Dengan kebutuhan tiga liter per hari, pengeluaran untuk beras mencapai sekitar Rp36.000-Rp39.000 sehari. Di luar itu, masih terdapat kebutuhan lauk-pauk dan bahan makanan lainnya.

“Kalau kebutuhan lain sekitar Rp20.000 sehari, kadang-kadang,” tuturnya.

Dengan demikian, kebutuhan pangan keluarganya dapat mencapai sekitar Rp50.000 per hari. Masalahnya, ketika kebutuhan tetap berjalan, sumber penghasilan justru menghilang.

Usia 75 Tahun Masih Menjadi Buruh Tani

Di usia 75 tahun, Murnah masih bekerja sebagai buruh tani atau gacong. Saat musim tanam dan panen tiba, ia bekerja di sawah milik warga untuk memperoleh upah.

Pekerjaan itu menjadi salah satu sumber pemasukan bagi keluarganya. Namun, ketika sawah mengering, kesempatan bekerja pun ikut menyusut.

“Sekarang tidak ada pekerjaan karena kemarau. Kalau enggak kemarau mah ada saja kerjaan, bisa ikut ngegebot di sawah tetangga, tapi ini mah enggak ada,” katanya.

Tidak adanya pekerjaan membuat Murnah kehilangan pemasukan tetap. Sementara itu, kebutuhan makan keluarganya tidak dapat ditunda.

Beban tersebut semakin berat karena Murnah masih membantu anggota keluarganya. Di rumah itu terdapat lima orang. Salah seorang anaknya yang telah berkeluarga mengalami kebutaan sehingga tidak lagi dapat bekerja dan memberikan penghasilan seperti sebelumnya.

“Di rumah ada lima keluarga termasuk saya. Anak saya yang sudah berkeluarga sudah tidak bisa melihat karena matanya kena kebutaan. Kalau dahulu mah dia yang ngasih uang buat makan saya sama keluarga, tapi sekarang mah sudah enggak,” ujarnya.

Dalam kondisi tidak memiliki uang, Murnah mengaku mengandalkan bantuan dari saudara dan tetangga.

“Kalau sedang tidak punya uang, dari tetangga sama saudara yang ngasih,” katanya.

Kekeringan Memutus Rantai Ekonomi Keluarga

Kondisi Murnah menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak berhenti pada lahan pertanian yang kekurangan air. Bagi keluarga yang bergantung pada sektor pertanian, kekeringan menciptakan rangkaian persoalan: tanaman gagal tumbuh, hasil panen hilang, pekerjaan berkurang, pendapatan terputus, sementara kebutuhan pangan tetap harus dipenuhi setiap hari.

Dalam kondisi seperti itu, bantuan pangan menjadi penting untuk menahan tekanan ekonomi rumah tangga, terutama bagi warga lanjut usia yang tidak memiliki penghasilan tetap.

Sebelum memperoleh bantuan dari Satlantas Polres Lebak, Murnah berharap pemerintah memberikan perhatian kepada warga yang terdampak kemarau, khususnya melalui bantuan pangan.

“Saya ingin mendapat bantuan. Kalau bisa bantuan beras dari pemerintah,” katanya.

Kini, sebagian kebutuhan tersebut terbantu melalui bantuan yang diberikan polisi.

Bagi Murnah, 25 kilogram beras yang diterimanya bukan sekadar bantuan sembako. Beras itu menjadi penyangga kebutuhan pangan keluarga ketika sawah mengering dan pekerjaan sebagai buruh tani terhenti. (Red)

 

Popular

Sawah Kering Disulap Jadi “Bioskop Rakyat”, 500 Warga Angsana Nobar Film Perjuangan dan Dapat Edukasi
Pabrik Gula di Pagelaran Pandeglang Belum Beroperasi, Warga Mengaku Tak Tahu Kelanjutannya
Polda Banten Buka Layanan SIM Keliling di Bayah, Catat Tanggal dan Syaratnya
Dongkrak Angka Kunjungan, Paguyuban UMKM Gedung Juang Pandeglang Gelar Lomba Karaoke
Semarak HUT RI ke-81 Bersama Maxim, Ratusan Warga Karaton Pandeglang Antusias Ikuti Jalan Santai
Jembatan Rusak Bertahun-tahun, Anggota DPRD Banten Bangun Akses Warga dengan Dana Pribadi
Jalan Penghubung Dua Desa Dibuka Lewat TMMD, Warga Patia: Impian Kami Akhirnya Terwujud
Polsek Menes Santuni Anak Yatim dan Dhuafa, Perkuat Semangat Kebersamaan Jelang HUT RI

Popular

Jumat, 4 September 2026 - 22:55

Sawah Kering Disulap Jadi “Bioskop Rakyat”, 500 Warga Angsana Nobar Film Perjuangan dan Dapat Edukasi

Kamis, 27 Agustus 2026 - 15:43

Sawah Gagal Panen, Penghasilan Terhenti, Polisi Bantu Lansia 75 Tahun di Lebak

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:18

Pabrik Gula di Pagelaran Pandeglang Belum Beroperasi, Warga Mengaku Tak Tahu Kelanjutannya

Senin, 10 Agustus 2026 - 12:02

Polda Banten Buka Layanan SIM Keliling di Bayah, Catat Tanggal dan Syaratnya

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:31

Dongkrak Angka Kunjungan, Paguyuban UMKM Gedung Juang Pandeglang Gelar Lomba Karaoke

Berita Terbaru