POJOKBANTEN.COM- LEBAK- Kawasan Tanjakan Bang Arum, tepat di dekat pintu perlintasan kereta api Commuter Line Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi perhatian setelah berulang kali terjadi kecelakaan yang melibatkan kendaraan besar, khususnya truk pengangkut material pasir dan galian C.
Untuk mengantisipasi kecelakaan kembali terjadi, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lebak, Polda Banten, memasang tiga titik jalur kejut di kawasan tersebut. Jalur kejut itu ditujukan untuk membantu memperlambat laju kendaraan, terutama truk yang melintasi turunan panjang Tanjakan Bang Arum.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Lebak Ipda Aris Setiawan mengatakan, sepanjang 2026 hingga saat ini tercatat enam kecelakaan di kawasan Tanjakan Bang Arum yang berkaitan dengan kendaraan besar.
Namun, seluruh kecelakaan pada 2026 tersebut tidak menyebabkan korban meninggal dunia. Korban yang ada mengalami luka ringan, sedangkan kendaraan mengalami kerusakan.
“Enam kali, Om. Cuma tidak ada korban jiwa, hanya materi dan luka ringan drivernya,” kata Aris kepada wartawan, Minggu (27/9/2026).
Menurut dia, karakteristik jalan menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Tanjakan Bang Arum memiliki turunan cukup panjang sehingga kendaraan berat harus bekerja ekstra untuk mengendalikan laju kendaraan.
“Kebanyakan mobil besarnya mengangkut tanah di situ. Kebanyakan tidak ketahan remnya karena rem panas, karena jalan Bang Arum turunan panjang,” ujarnya.
Aris menjelaskan, polisi sebelumnya juga telah melakukan pemeriksaan laik jalan atau ramp check terhadap kendaraan besar yang melintas di kawasan tersebut. Dari pemeriksaan itu, kendaraan yang diperiksa dinilai dalam kondisi baik.
Persoalan justru muncul ketika kendaraan harus melewati turunan panjang secara terus-menerus.
“Kalau kendaraan besar menggunakan angin, anginnya bisa habis dan panas akibat rem terus. Jadi pas di relnya bisa ngemplos,” katanya.
Selain memasang tiga titik jalur kejut, Satlantas Polres Lebak juga telah menyampaikan surat kepada pihak terkait agar kondisi jalan di sekitar perlintasan, termasuk bagian bantalan atau permukaan rel yang berdekatan dengan badan jalan, diperbaiki.
Kondisi permukaan perlintasan menjadi perhatian karena perbedaan ketinggian antara rel dan badan jalan dapat memengaruhi kenyamanan sekaligus keamanan kendaraan ketika melintas.
Menurut Aris, idealnya bantalan atau permukaan rel tidak memiliki perbedaan ketinggian yang terlalu besar dengan badan jalan.
“Minimal jangan lebih tinggi dari jalan supaya pengendara juga enak saat melintas rel,” ujarnya.
Selain kondisi permukaan perlintasan, minimnya penerangan pada malam hari juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Kawasan tersebut tetap dilalui kendaraan pada malam hari, termasuk kendaraan berat yang membawa material.
Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Satlantas Polres Lebak mencatat 10 kecelakaan di kawasan Tanjakan Bang Arum. Dari jumlah tersebut, dua orang meninggal dunia, sementara kecelakaan lainnya menimbulkan korban luka maupun kerugian materi.
Data tersebut menunjukkan persoalan di kawasan itu tidak semata berkaitan dengan kondisi kendaraan. Kombinasi turunan panjang, kendaraan bermuatan material, kondisi perlintasan, serta penerangan jalan menjadi sejumlah faktor yang perlu ditangani secara bersamaan.
Aris mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dan menyampaikan kebutuhan perbaikan kepada pihak terkait. Namun, ketika ditanya mengenai koordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait kondisi perlintasan, Aris menyampaikan adanya kendala dalam pembahasan perbaikan.
“KAI pinter itu berkelit aja,” kata Aris.
Meski demikian, kepolisian memilih melakukan langkah yang dapat segera diterapkan di lapangan, salah satunya pemasangan jalur kejut di tiga titik.
Aris berharap langkah tersebut dapat mengurangi risiko kecelakaan, terutama yang melibatkan kendaraan besar.
“Semoga di tahun ini tidak ada korban di Bang Arum,” ujarnya.
Kecelakaan Kembali Terjadi
Upaya tersebut dilakukan setelah kecelakaan kembali terjadi di Tanjakan Bang Arum pada Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 23.30 WIB.
Sebuah truk yang diduga mengangkut material galian C mengalami kecelakaan lalu lintas di kawasan tersebut.
Berdasarkan video yang diterima PojokBanten.com, truk berwarna hijau bertuliskan “CAKRA” terlihat mengalami kerusakan pada bagian depan.
Dalam video tersebut, sopir truk masih berada di bagian depan kendaraan. Sejumlah pengendara kemudian membantu mengevakuasi sopir dari kendaraan tersebut.
Belum ada laporan korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
Rangkaian kecelakaan di Tanjakan Bang Arum menjadi catatan penting karena lokasi tersebut berdekatan dengan pintu perlintasan kereta api Commuter Line. Artinya, persoalan keselamatan tidak hanya menyangkut pengguna jalan, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna perlintasan.
Karena itu, penanganan kawasan tersebut tidak cukup hanya dengan mengandalkan kemampuan pengereman kendaraan. Perbaikan infrastruktur perlintasan, penerangan, pengawasan kendaraan berat, serta pengaturan operasional kendaraan pengangkut material menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan untuk menekan risiko kecelakaan berulang. (Red)







