Pilu 15 Tahun Bertahan di Gubuk Reyot, Suryadi Harap Miliki Rumah Layak

Minggu, 26 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi gubuk reyot yang ditempati Suryadi bersama keluarganya di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (26/4/2026).

Kondisi gubuk reyot yang ditempati Suryadi bersama keluarganya di Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, Minggu (26/4/2026).

POJOKBANTEN.COM, LEBAK — Kisah memilukan datang dari pelosok Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Selama kurang lebih 15 tahun, Suryadi (38) bersama istri dan dua anaknya bertahan hidup di sebuah gubuk reyot berukuran sekitar 3×4 meter yang nyaris ambruk.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat Suryadi tak mampu memperbaiki rumahnya yang sudah jauh dari kata layak huni. Untuk menyambung hidup, ia bekerja serabutan sebagai buruh tani di sawah dan kebun milik warga. Penghasilannya tidak menentu, bahkan kerap hanya cukup untuk sekadar makan sehari-hari.

Penderitaan Suryadi kian berat karena kondisi fisiknya yang lemah. Ia mengalami cedera tulang punggung akibat terjatuh dari pohon kecapi saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, rasa sakit kerap datang dan membatasi kemampuannya untuk bekerja maksimal.

Pantauan PojokBanten.com pada Minggu (26/4/2026), gubuk yang ditempati keluarga tersebut terbuat dari kayu dan anyaman bambu yang sudah lapuk dimakan usia. Bangunan tampak miring, bahkan sebagian sisinya harus disangga dengan tiang agar tidak roboh. Bagian dalam rumah terlihat kumuh, tanpa lantai ubin, dan hanya berisi perabotan seadanya.

Saat hujan turun disertai angin kencang, air dengan mudah masuk dari berbagai sudut atap yang bocor. Situasi ini membuat Suryadi dan keluarganya diliputi rasa cemas, khawatir rumahnya roboh sewaktu-waktu.

Untuk menambah penghasilan, Suryadi sesekali mencari kroto (telur semut) yang dijual sekitar Rp30 ribu per dua ons. Namun pekerjaan itu hanya dilakukan saat akhir pekan dan hasilnya tidak menentu. Jika mendapat pekerjaan tambahan sebagai buruh tani, ia hanya menerima upah sekitar Rp25 ribu per hari.

“Paling kalau hari Sabtu sama Minggu dua hari itu saya nyari kroto untuk dijual,” kata Suryadi lirih.

Ia mengaku tak berani merantau ke luar kota seperti kebanyakan warga lainnya. Keterbatasan pendidikan dan kondisi fisik yang lemah menjadi penghalang.

“Bukan enggak mau kerja ke Jakarta atau ke mana saja, tapi saya enggak kuat. Fisik saya lemah sejak jatuh dari pohon kecapi waktu SD,” ujarnya.

Selama ini, bantuan dari pemerintah yang diterima hanya sebatas sembako dan bantuan sesekali. Bantuan tersebut dirasa belum cukup untuk memperbaiki kondisi rumahnya.

“Alhamdulillah dapat bantuan, tapi untuk bikin rumah enggak cukup,” tuturnya.

Suryadi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali mengusulkan kondisi rumahnya kepada pemerintah desa. Namun hingga kini, belum ada realisasi.

“Sudah sering ngusulin, tapi belum ada yang datang,” katanya.

Di tengah keterbatasan, Suryadi tetap bertahan. Ia hanya berharap suatu hari keluarganya bisa memiliki tempat tinggal yang layak dan aman.

“Harapannya kami bisa punya rumah yang layak. Kasihan anak saya suka minder sama teman-temannya, apalagi kalau hujan rumah bocor,” ucapnya penuh harap.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sukarendah, Sunatra, mengungkapkan bahwa di wilayahnya terdapat sekitar 10 rumah tidak layak huni. Beberapa di antaranya berada dalam kondisi sangat memprihatinkan.

“Yang paling parah itu milik Suryadi di Cipasung dan Sayuti di Galura,” ujarnya.

Menurutnya, pihak desa sebenarnya telah mengajukan bantuan ke berbagai instansi seperti Dinas Sosial, BPBD, dan Dinas Perumahan dan Permukiman. Namun hingga kini, bantuan tersebut belum terealisasi.

“Sudah diusulkan, tapi masih menunggu. Belum ada realisasi,” katanya.

Sunatra menjelaskan, keterbatasan anggaran desa menjadi kendala utama. Sebagian besar anggaran terserap untuk kebutuhan rutin, sehingga belum mampu mengakomodasi pembangunan fisik.

“Anggaran desa sangat terbatas, lebih banyak untuk kebutuhan dasar seperti siltap,” jelasnya.

Ia mengakui kondisi rumah Suryadi menjadi salah satu yang paling memprihatinkan, baik dari segi bangunan maupun kondisi penghuninya.

“Kalau melihat kondisinya sangat miris. Kami ingin membantu, tapi kemampuan desa terbatas,” ujarnya.

Meski sempat ada inisiatif warga untuk membongkar rumah secara swadaya, pihak desa memilih tetap mengutamakan jalur pengajuan bantuan resmi agar penanganan lebih terarah.

“Ada rencana warga mau membongkar, tapi kami arahkan tetap diajukan dulu ke pemerintah,” tambahnya.

Sunatra berharap seluruh pihak dapat segera turun tangan membantu warga yang membutuhkan.

“Harapan kami semua pihak bisa membantu, karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan,” tutupnya. (Red)

Popular

Hari Anak Nasional, Siswa Masih Belajar di Kelas Rusak, DPRD Pandeglang Desak Disdikpora Berbenah
Ade Rossi: Bullying Bukan Kenakalan, tetapi Kejahatan HAM; Sekolah Diminta Perkuat Satgas Pencegahan
Jalan 18 Km Penghubung Enam Desa di Pandeglang Dibangun, Pangdam Siliwangi: Dorong Ekonomi Warga Pelosok
Janji Perbaikan Jalan di Kampung Suminta Belum Terwujud, DPUPR Lebak dan Pemerintah Desa Saling Bantah
Kapolda Banten Jalin Silaturahmi Kamtibmas Bersama PWI Banten
Miris! Hari Pendidikan Nasional, Siswa SD di Lebak Tiap Hari Bertarung dengan Jalan Lumpur Menuju Sekolah
Pemkab Lebak Minta Maaf & Janji Perbaiki Gubuk Reyot Milik Suryadi
Apel HKB 2026 di Pandeglang, BPBD Tekankan Pentingnya Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

Popular

Jumat, 17 Juli 2026 - 01:00

Ade Rossi: Bullying Bukan Kenakalan, tetapi Kejahatan HAM; Sekolah Diminta Perkuat Satgas Pencegahan

Rabu, 13 Mei 2026 - 03:49

Jalan 18 Km Penghubung Enam Desa di Pandeglang Dibangun, Pangdam Siliwangi: Dorong Ekonomi Warga Pelosok

Selasa, 5 Mei 2026 - 06:39

Janji Perbaikan Jalan di Kampung Suminta Belum Terwujud, DPUPR Lebak dan Pemerintah Desa Saling Bantah

Selasa, 5 Mei 2026 - 04:48

Kapolda Banten Jalin Silaturahmi Kamtibmas Bersama PWI Banten

Minggu, 3 Mei 2026 - 03:46

Miris! Hari Pendidikan Nasional, Siswa SD di Lebak Tiap Hari Bertarung dengan Jalan Lumpur Menuju Sekolah

Berita Terbaru