ANAK SEKOLAH BUKAN PENGEMIS, NEGARA JANGAN SALAH MENDIDIK

Kamis, 15 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nurjaya Ibo

Nurjaya Ibo

Jangan Jadikan Kemiskinan sebagai Identitas Anak

Ada bahaya lain yang perlu kita hindari: melekatkan identitas kemiskinan kepada anak-anak penerima bantuan.

Mereka memang berasal dari keluarga yang membutuhkan dukungan ekonomi. Namun, keadaan itu tidak boleh menjadi label yang membatasi cara masyarakat memandang mereka, apalagi memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.

Seorang anak mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi ia juga memiliki cita-cita, bakat, kecerdasan, dan kesempatan untuk berkembang. Ia bisa menjadi guru, dokter, petani modern, pengusaha, peneliti, atau pemimpin pada masa depan.

Jangan biarkan status penerima bantuan menutupi seluruh potensi tersebut.

Saya percaya banyak anak petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan pekerja informal mampu mengubah masa depan keluarganya ketika memperoleh pendidikan dan kesempatan yang layak. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan yang berlebihan. Mereka membutuhkan lingkungan yang adil, sekolah berkualitas, pelayanan publik yang baik, dan kebijakan yang membuka jalan bagi perkembangan kemampuan mereka.

Bantuan harus menjadi jembatan untuk memperluas kesempatan, bukan identitas permanen yang membuat seseorang terus dipandang sebagai pihak yang tidak berdaya.

Di sinilah pentingnya membangun kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada penyaluran dana, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan, perluasan kesempatan kerja, dan penguatan ekonomi keluarga.

Selama keluarga masih menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, bantuan tetap diperlukan. Akan tetapi, pembangunan tidak boleh berhenti pada penambahan jumlah penerima. Pemerintah juga harus berupaya memperbaiki keadaan yang membuat keluarga terus-menerus berada dalam kerentanan ekonomi.

Keberhasilan pembangunan bukan semata-mata ditentukan oleh berapa banyak bantuan yang dibagikan, melainkan juga oleh seberapa banyak keluarga memperoleh kesempatan untuk hidup lebih layak dan mandiri.

Negara Harus Mendidik Melalui Tindakan

Kita sering mengajarkan Pancasila, demokrasi, hak warga negara, dan kedaulatan rakyat di ruang kelas. Anak-anak belajar bahwa negara bertanggung jawab melindungi masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Namun, pelajaran tersebut tidak boleh berhenti sebagai hafalan dalam buku pendidikan kewarganegaraan.

Anak-anak juga belajar dari apa yang mereka alami. Mereka belajar tentang keadilan ketika dilayani secara adil. Mereka belajar tentang kesetaraan ketika diperlakukan dengan hormat. Mereka belajar tentang tanggung jawab negara ketika kebutuhan mereka diperhatikan tanpa prosedur yang tidak perlu.

Sebaliknya, pengalaman pelayanan yang menyulitkan dapat menimbulkan jarak antara nilai yang diajarkan di sekolah dan kenyataan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Birokrasi sebenarnya juga merupakan ruang pendidikan. Cara pemerintah berkomunikasi, mengatur antrean, menjelaskan persyaratan, menangani keluhan, dan melayani keluarga miskin ikut membentuk pemahaman generasi muda tentang negara.

Pemerintah perlu menyadari bahwa pelayanan publik bukan hanya urusan teknis. Di dalamnya terdapat nilai, sikap, dan keteladanan.

Anak-anak harus belajar menghormati pemerintah tanpa kehilangan keberanian untuk mengkritiknya. Mereka harus mampu bersyukur atas bantuan tanpa merasa bahwa masa depannya bergantung pada kemurahan hati pejabat. Mereka juga perlu memahami bahwa warga negara memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang layak.

Inilah pendidikan kewarganegaraan yang hidup, bukan sekadar teori.

Saya berharap kritik ini tidak disalahartikan sebagai penolakan terhadap bantuan pemerintah. Saya mendukung program yang benar-benar membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh pendidikan. Namun, mendukung tujuan sebuah program tidak berarti menutup mata terhadap kekurangan pelaksanaannya.

Justru karena bantuan pendidikan begitu penting, pemerintah harus memastikan bahwa pelaksanaannya tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga mudah diakses, aman, transparan, dan menghormati martabat penerima.

Negara yang berhasil bukanlah negara yang membuat rakyatnya terus menunggu bantuan. Negara harus mampu melindungi mereka yang membutuhkan sekaligus memperluas kesempatan agar masyarakat semakin berdaya.

Anak Buruh Tani Berhak Berdiri Tegak

Saya menulis opini ini dengan membawa pengalaman dan kebanggaan sebagai anak seorang buruh tani.

Saya tidak malu dengan asal-usul saya. Saya memahami bahwa keterbatasan ekonomi dapat menghadirkan banyak kesulitan, tetapi saya juga percaya bahwa kemiskinan tidak pernah menghapus martabat manusia.

Orang tua yang bekerja di sawah, menggarap tanah milik orang lain, atau menjalani pekerjaan harian mungkin tidak memiliki harta berlimpah. Namun, mereka memiliki harapan besar agar anak-anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Mereka bekerja keras agar anaknya bisa sekolah, belajar, dan memiliki masa depan yang berbeda. Perjuangan itu pantas dihormati.

Negara seharusnya hadir untuk memperkuat perjuangan tersebut melalui pendidikan berkualitas, perlindungan sosial yang tepat, pelayanan yang manusiawi, dan kebijakan yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang.

Jangan sampai pemerintah merasa telah menunaikan seluruh tanggung jawab hanya karena dana bantuan sudah disalurkan. Di balik setiap angka penerima terdapat anak yang sedang tumbuh, orang tua yang sedang berjuang, dan keluarga yang menggantungkan harapan pada pendidikan.

Mereka bukan sekadar data dalam laporan program. Mereka adalah warga negara yang memiliki masa depan dan martabat yang harus dihormati.

Karena itu, saya ingin menegaskan bahwa bantuan pendidikan harus menjadi jalan untuk memperkuat kemandirian, bukan membangun hubungan ketergantungan antara masyarakat dan kekuasaan. Bantuan harus memperluas kesempatan, bukan menimbulkan rasa rendah diri. Pelayanan publik harus memudahkan kehidupan rakyat, bukan menambah kesulitan mereka.

Anak sekolah bukan pengemis. Mereka bukan orang yang sedang meminta belas kasihan kepada penguasa. Mereka adalah generasi penerus bangsa yang hak pendidikannya harus dilindungi dan dipenuhi.

Negara jangan salah mendidik mereka.

Berikan bantuan dengan cara yang mudah, aman, dan bermartabat. Ajarkan mereka untuk menghargai bantuan, tetapi jangan membuat mereka merasa berutang budi kepada kekuasaan. Bantu mereka menghadapi keterbatasan hari ini, sekaligus buka jalan agar mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik pada masa depan.

Saya adalah anak seorang buruh tani. Saya tidak ingin ada satu pun anak Indonesia yang merasa rendah diri hanya karena orang tuanya miskin. Saya ingin mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa keadaan ekonomi keluarga tidak menentukan nilai kemanusiaan, kecerdasan, ataupun batas cita-cita mereka.

Sebab, yang dibutuhkan anak-anak kita bukanlah pelajaran tentang bagaimana menadahkan tangan kepada kekuasaan, melainkan kesempatan untuk tumbuh menjadi manusia merdeka, berdaya, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Negara yang bermartabat bukan negara yang membuat anak-anaknya merasa berutang budi karena menerima bantuan, melainkan negara yang membuat mereka percaya diri karena hak-haknya dihormati.

 

Penulis: Nurjaya Ibo

Anak Seorang Buruh Tani

Founder Ibo Politica Indonesia

 

Popular

Tercatat Desil 3, 15 Tahun Menjaga Makam Tanpa Gaji, Saen Bertahan di Gubuk Bilik
Dari Pengatur Perjalanan KA hingga Kepala Stasiun, Kisah Yudi Sugiar Mengabdi di PT KAI
Profil Ainia Salsabila Alhafidzah, Perempuan Asal Lebak yang Kini Lolos Babak Top 12 Da’i Aksi Indosiar 2026

Popular

Kamis, 15 Oktober 2026 - 02:45

ANAK SEKOLAH BUKAN PENGEMIS, NEGARA JANGAN SALAH MENDIDIK

Rabu, 30 September 2026 - 12:47

Tercatat Desil 3, 15 Tahun Menjaga Makam Tanpa Gaji, Saen Bertahan di Gubuk Bilik

Kamis, 28 Mei 2026 - 13:09

Dari Pengatur Perjalanan KA hingga Kepala Stasiun, Kisah Yudi Sugiar Mengabdi di PT KAI

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:31

Profil Ainia Salsabila Alhafidzah, Perempuan Asal Lebak yang Kini Lolos Babak Top 12 Da’i Aksi Indosiar 2026

Berita Terbaru