POJOKBANTEN.COM, LEBAK- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten, akhirnya angkat bicara terkait kondisi memprihatinkan yang dialami Suryadi (38), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, yang selama 15 tahun tinggal di gubuk tidak layak huni bersama istri dan dua anaknya.
Melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Lebak, Pemkab menyampaikan permohonan maaf sekaligus komitmen untuk segera memperbaiki tempat tinggal keluarga tersebut.
Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Lebak, Iyan Fitriyana, mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan dan pendampingan terhadap kondisi warga kurang mampu. Ia memastikan pemerintah daerah akan bergerak cepat dengan mengerahkan berbagai sumber daya yang ada.
“Mohon doa dari semua pihak. Pemkab akan berikhtiar melalui berbagai jejaring dan sumber daya yang tersedia,” ujar Iyan saat dihubungi, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, langkah awal yang akan dilakukan adalah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kabupaten Lebak. Selain itu, Pemkab juga akan menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) serta lembaga filantropi untuk mempercepat penanganan.
“Insyaallah kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perkim Lebak. Kami juga akan terus berikhtiar melalui Baznas dan filantropi lainnya, termasuk mencoba berkomunikasi dengan Perkim Provinsi,” katanya.
Iyan menegaskan, Pemkab Lebak tidak akan tinggal diam dan berjanji memperkuat pendampingan terhadap warga kurang mampu, terutama melalui Dinas Sosial.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Lebak, kami memohon maaf. Ke depan, melalui pendamping dari Dinas Sosial, kami akan lebih maksimal dalam melakukan pendampingan serta pengawasan terhadap kondisi warga,” tegasnya.
Sebelumnya, kisah Suryadi yang menderita patah tulang punggung menjadi sorotan publik. Ia bersama keluarganya bertahan hidup di gubuk berukuran sekitar 3×4 meter yang nyaris ambruk selama bertahun-tahun.
Dengan kondisi ekonomi terbatas, Suryadi tidak mampu memperbaiki rumahnya yang sudah tidak layak huni. Sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak menentu, bahkan kerap hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan.
Kondisi fisiknya yang lemah turut memperparah keadaan. Suryadi mengaku mengalami cedera tulang punggung akibat jatuh dari pohon kecapi saat masih duduk di bangku sekolah dasar, yang hingga kini membuatnya kesulitan bekerja secara optimal. (Red)







