POJOKBANTEN.COM, LEBAK- Di tengah padatnya arus kendaraan yang melintas di ruas jalan depan SMP Negeri 2 Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, ratusan siswa setiap hari harus mempertaruhkan keselamatan mereka saat menyeberang menuju sekolah. Hingga kini, tidak ada satu pun rambu penyeberangan, marka jalan, maupun zona selamat sekolah yang terpasang di lokasi tersebut.
Pantauan PojokBanten.com di lokasi pada Selasa (19/5/2026) siang menunjukkan kendaraan roda dua, mobil pribadi hingga truk besar melintas dengan kecepatan tinggi di jalur yang berada tepat di depan gerbang sekolah. Kondisi jalan yang menikung dan berada di area persimpangan membuat jarak pandang pengendara maupun pelajar menjadi terbatas.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran serius dari para siswa dan pihak sekolah karena potensi kecelakaan dinilai sangat tinggi, terutama saat jam masuk dan pulang sekolah ketika ratusan pelajar keluar secara bersamaan.
Salah seorang siswi kelas VIII SMPN 2 Cibadak, Angelia Arianti (14), mengaku setiap hari merasa waswas saat hendak menyeberang jalan menuju sekolah.
“Enggak ada rambu penyeberangan. Kadang kesulitan kalau nyebrang karena dari bawah suka enggak kelihatan ada kendaraan atau enggak. Ditambah ada belokan, jadi sulit,” ujar Angelia kepada PojokBanten.com saat ditemui disela-sela pulang sekolah, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, kendaraan yang melintas di depan sekolah kerap melaju dalam kecepatan tinggi tanpa mengurangi laju kendaraan meski memasuki kawasan pendidikan.
“Takut ada kendaraan yang kencang. Kita kan enggak tahu. Kadang suka kaget tiba-tiba ada mobil dari jauh,” katanya.
Meski belum pernah terjadi kecelakaan yang menimpa dirinya, Angelia mengaku kekhawatiran selalu menghantui para siswa setiap kali hendak menyeberang jalan.
“Masa harus nunggu ada korban jiwa sih Kak. Ya tentunya saya berharap secepatnya bisa dibuatkan rambu penyeberangan supaya kita aman,” ucapnya.
Kondisi tersebut dibenarkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 2 Cibadak, Intan. Ia mengatakan hingga saat ini sekolah belum memiliki fasilitas keselamatan lalu lintas yang memadai di depan lingkungan sekolah.
“Belum ada rambu penyeberangan. Kendaraan besar juga sering lewat sini dan lalu lintas cukup ramai,” kata Intan.
Menurutnya, titik lokasi sekolah yang berada di area tikungan dan persimpangan semakin memperbesar risiko kecelakaan lalu lintas terhadap pelajar.
“Dikhawatirkan terjadi kecelakaan karena ini persimpangan dan tikungan. Anak-anak kadang keluar bersamaan, ada yang lari juga,” ujarnya.
Ironisnya, pihak sekolah mengaku telah beberapa kali mengusulkan pemasangan rambu penyeberangan kepada instansi terkait. Namun usulan tersebut hingga kini belum juga direalisasikan.
“Pernah diusulkan, tapi mungkin dianggap bukan jalan besar sehingga belum direalisasikan,” katanya.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas keselamatan pelajar di daerah. Di saat pemerintah terus menggencarkan kampanye keselamatan berlalu lintas dan sekolah ramah anak, fasilitas dasar berupa zebra cross dan zona sekolah justru belum tersedia di depan sekolah yang setiap hari dipadati aktivitas siswa.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun dinas terkait segera turun tangan sebelum terjadi kecelakaan yang memakan korban.
“Harapannya dibuatkan rambu penyeberangan supaya anak-anak aman dan kendaraan bisa melambatkan kecepatannya,” harap Intan.
Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lebak, Abdurazak, meminta pihak sekolah kembali mengajukan permohonan resmi kepada Dishub agar dapat diinventarisasi.
“Terkait ajuan itu buat saja ditujukan ke Dishub, biar nanti kita inventaris dan semoga ada anggarannya nanti. Soalnya tahun ini juga untuk ZoSS enggak ada anggarannya,” kata Abdurazak singkat saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (20/5/2026). (RED)







